Tiga Cara Keluar dari Bosan



“eh, lagi pusing deh. Kerjaan nggak selesai-selesai, jadi mumet kepala!”
“terus-terus, saking nge-lag nya ini kepala, kerjain tugas aja bisa cepet lelah, suntuk, akhirnya nggak fokus”
Terus di toyor kepala pakai tangan sendiri.

Debat sama diri sendiri itu perlu buat nyadarin betapa begonia diri sendiri atas situasi yang ada. Terpaku, malah bisa mentok sama hal-hal itu aja sampai jenggot mulai panjang. Padahal masih banyak kegiatan lain yang harus dikerjain. Untuk memecahkan masalah suntuk begini, biasanya saya lebih memilih tiga pelarian yang asik buat dijalani kapan aja. Ada ngegambar, jalan-jalan, dan makan. Ketiga hal yang biasa tersebut biasanya jadi terapi saya untuk menikmati hidup. Kadang berhasil, kadang sedikit berhasil. Tergantung kondisi dompet juga, sih.

1. Menggambar

I was born without that sense. Pertama yang diingat ketika kecil itu saya selalu menggambar dengan dua gunung dan satu matahari dengan persawahannya yang hijau. Kalau lagi bosen ditambahin muka di matahari, atau gunungnya cuma satu. Ya… mirip gunung Krakatau yang mudik ke dekat persawahan deh. Mungkin satu-satu nya sense yang ada itu cuma selera pakai baju. Kalau nggak suka sama gambar yang ada di kaos, pasti nggak mau dipake. Kekeuh dengan sifat ini dari zaman jerawatan sampai berjenggot. Jadi mendingan pakai baju polos aja daripada nggak selera. Nyebelin emang. Terus suka ngegambar dikit-dikit. Mulai dari garis yang meleot-leot nggak pede, sampai sekarang kuliah di desain, rasanya senang sekali bisa menggoreskan sesuatu menjadi sebuah bentuk. Dari segala masalah yang biasa saya hadapi, saya akhirnya bisa memposisikan menggambar dan segala tetek bengeknya sebagai proses recovery dari rasa suntuk (eh, mungkin buku mewarnai untuk dewasa itu muncul karena problema suntuk begini, ya?).







Kemanapun saya pergi, saya selalu membawa benda ini. Walau sensasi goresan di kertas asli lebih mantap, tapi saya suka males beli kertas. Jadi ya mending punya barang beginian. Tablet android yang punya stylus ini selalu saya bawa kemanapun. Mulai dari wc buat nemenin boker sambil nonton DC series, sampai nyobain ngegambar gedung depan Adamson Inn yang ternyata susah juga kalau ngegambar secara langsung. Tapi itu menyenangkan. Ada angina segar yang dirasakan ketika menganyunkan pensilnya. Walau secara harfiah dan artificial, pensil ini bisa mewakili perasaan kamu saat itu juga. Kalau kamu lagi bahagia, goresan itu akan terlihat ceria. Kalau kamu lagi sedih, coretannya meragukan, tone gelap mulai muncul, atau situasi paling buruk ya nge-blank aja nggak ngapa-ngapain.





telepon umum nggak perna dipake, jadi gini deh (Seaworld)

2. Jalan-jalan

"Nggak punya uang, bro"

Yaelah, mau bahagia aja cari alasan. Jalan-jalan ini penting. Kita bisa merasakan jadi manusia seutuhnya dengan jalan-jalan. Lihat suasana baru, berinteraksi dengan orang lain, tersenyum, dan banyak hal yang bisa dilakuin.

Kalau nggak punya uang, gampang. Pergi ke pusat kota aja. cuma duduk-duduk di kursi juga nggak masalah, asal jangan trotoar yang bentuknya aja dibuat sempit yang nggak di desain buat manusia jalan kaki, loh ya. Saya sendiri biasa menghabiskan waktu dengan berjalan kaki mengitari kota. Alun-alun Bandung, Braga, jalan Riau, malah pasteur aja dijelajahin. Kenapa? karena saya bisa berpikir lebih jernih ketika berjalan kaki.



semuanya suka baca, ya? dari koran sampai smartphone.

Kalau lagi mood, enak bawa kamera sambil foto-fotoin apapun. Weird, but, is it fun?

pernah kan menyadari kalau sesuatu yang direncanakan sama kamu itu kadang nggak pernah terlaksana, Apalagi kalau judulnya bermain bareng teman-teman. Malah biasanya jadi wacana doang. Tapi ketika semuanya nggak ada rencana, terus mendadak pada pengin maen, eh malah jadi dan seru banget. Mungkin sama kayak jalan-jalan tanpa tujuan begini, eh tiba-tiba dapat sesuatu yang seru. Lihat keadaan yang nggak diduga. Kalau saya lihat orang-orang yang sibuk dengan koran dan berita duniawi kayak foto di atas, melihat kucing yang berlari dengan pantatnya, anak Taman Kanak-kanak loncat-loncatan bermain air yang ngebuat senyum-senyum sendiri sambil mengingat masa kecil. Semua ini menyenangkan. Mungkin kalau kamu bisa melihat hal-hal menarik di tempat kamu berada sekarang, itu akan lebih asyik.

3. Makan
Lo nyebelin kalau laper. Ya! itu benar. Ahok aja bisa cepet emosian kalau sampai kelaperan. Pasukan nasi bungkus aja terus-terusan demo kalau belum dapat jatah nasi bungkus. Ini fakta yang baik untuk selalu dipegang teguh sama orang yang gampang emosi. Harus sedia cemilan di kantong. Kalo nggak, yaudah deh buyar. Selain untuk memenuhi kewajiban untuk hidup, makan juga bisa jadi bagian dari rekreasi.

Bayangkan, jika seluruh daerah di Indonesia banyak tempat rekreasi yang berkedok tempat makan, cafe, warung makan yang banyak banget, perut manusia mana yang bakal emosian? Terus angka kejahatan berkurang, lalu semuanya hidup tentram.





Pizza di Dago, ajib men.


Mau makan di mana pun, dengan apapun, pastinya ngebuat kita bahagia. Saya selalu menyimpan cemilan di tas. Nggak, saya nggak rakus makan kayak dahulu kala, tapi tetap, makanan itu selalu ada untuk menstabilkan tubuh. Eak. Biasanya, saya cukup menyetok beng-beng, snickers dan sebagainya untuk menjadi doping agar produktif selama beberapa jam, yang pastinya bakal membuat otak nggak bisa berhenti bekerja. Tapi selain untuk membuat produktifias tinggi, makanan juga bisa membuat rileks, tergantung niat awalnya, sih.


Dari ketiga cara di atas, mana cara favoritmu? Atau, pada penasaran cerita dibalik masing-masing cara tersebut?

Sebenarnya, post ini akan dibagi menjadi 3 bagian pula. Menggambar, jalan-jalan, dan makan. Tapi sebenarnya, foto pizza di atas sudah dibahas di post Malam Minggu di Dago, namun saya akan menceritakannya dengan makanan lain, soalnya saya kebingungan mencari foto makanan favorit, enak semuanya sih. Gimana dong, aku suka semua makanan. Untuk menggambar, saya akan menceritakan bagaimana menggambar bisa membuat hidup saya lebih bahagia, dan jalan-jalan bisa membuat pikiran saya lebih jernih.

Itulah satu dari tiga cara saya menikmati situasi suntuk. Ini juga adalah alasan saya untuk tidak bisa menulis di blog ini untuk beberapa saat. Mumet. I cannot think it clearly. But, I also trying to be good writer, I cannot blame mumet into scapegoat again.


Yeah. I can finish it. And… WE! WE CAN FINISH THIS TUGAS AKHIR THINGS!


Rock Muntain, sambal dengerin suara pesawat, lagi mumet Tugas Akhir dan berusaha jadi manusia strong.

You Might Also Like

4 komentar

  1. Karena g bisa gambar, aku milih cara ke 2 dan 3. Dan lumayab sih..

    BalasHapus
  2. Aku malah suka nonton film aja kalau lagi bosen ngapa-ngapain :D

    BalasHapus
  3. benar banget, kadang kalau lagi bosan, makan memang yang paling efektif..

    BalasHapus

Berikan komentarmu dan kita bisa berdiskusi di sini!