Ignis : Mini Form Function



Mobil sekarang banyak jenisnya, ya. Mobil untuk perkotaan, hutan, balap. Semua ada kategorinya. Kalo ngomongin masalah mobil yang laku bak kacang rebus sih mungkin bisa lirik LCGC. Karena untuk saat ini, dijalanan udah penuh sama mobil LCGC (Lah kok surveynya sotoy gitu, seh?). Low Cost Green Car, Mungil, irit bahan bakar, dan… Murah. Tapi kadang fiturnya kurang greget untuk dilirik, iya nggak? Kurang fitur ini lah, itulah. Apalagi mobil macem begitu terkenal dengan tipisnya lapisan mobil. Berasa menyetir kaleng. Padahal, gue sendiri suka-suka aja naik LCGC, enteng dan bisa nyelap-nyelip. Siapa coba yang nggak suka nyelap-nyelip apalagi pas bete kalo kena macet? Lagian sih, udah murah tapi pengin yang lebih. Dasar manusia emang nggak pernah puas ya, jadi muncul deh berbagai macam pilihan, dan rasanya karena gue lagi nyobain Mobil Suzuki Ignis, jadi pengen sekalian nyoba-nyobain review.
Ignis bukan masuk mobil LCGC sih, tapi dengan harga yang menyerempet harga mobil pajak ringan tersebut, kayaknya dengan segala fiturnya yang lengkap, mobil ini masih bisa bersaing dengan LCGC karena fitur dan menang di tampang.(Disclaimer: Mobil ini bukan pinjaman dealer, ini murni penggunaan harian, review ini tidak berbayar)Sedikit ngasih tahu dulu aja, bahwa tulisan ini nggak akan sedetail review-review yang lainnya. Ini cuma review pengguna biasa. Untuk lebih lengkapnya bisa baca review-review di website lain.




Urban SUV, Mini Form Function
Tampang Ganteng, Belakangnya Ngegantung. Iya nggak?
Sebenarnya untuk bentuk, merk Suzuki ini memang terkenal angin-anginan. Nggak semua orang suka dengan mobil Suzuki. Terus muncul Ignis ini. Si kecil tapi genit. Banyak yang neglirik. Tampang mungil juga gagah. Lampu depan kotak, grill yang menyatu dengan lampu dari sudut ke sudut. Cantik dan simpel. Garis pemanis di samping ruang mesin yang diturunkan dari Grand Vitara, Tiga garis menyamping turunan dari mobil jadulnya Suzuki membuat mobil Suzuki Ignis ini semakin ikonik. Embuh mobil apa itu. Tapi yang jelas pandangan pertama ngeliat mobil ini sih langsung jatuh cinta. Tapi..
Kalau dari belakang, rasanya sulit diterima. Mau disebut bagus itu susah. Syukur-syukur dibilang "standar, lah". Lampunya terkesan tajam menjorok ke dalam bagian atas. Runcing, tegas, serba sangar. Rasanya bertolak belakang kalau dibandingkan dari depan.
Kayak…. Mobil ini dibuat dengan tim yang berbeda untuk depan dan belakang. Biking geleng-geleng kepala. Bisa ya ada mobil depannya bagus gitu, belakangnya bertolak belakang. Malah, berasa beda jenis dan nggak ada hubungan darahnya. Tapi kualitas bahannya sih bisa dibilang top lah. Tebel, rakitan asli india. Terbukti dengan emblem tanda rakitannya di dekat pintu driver. Plat tebal, tampang (depan) ganteng. Mau aman tentram juga bisa gaya ngebuat Suzuki Ignis ini.



Interior
Kalem, rasanya itu kata tepat yang bisa menjabarkan keseluruhan interior. Segalanya serba kotak. Kabin yang kotak pun rasanya nggak ada nilai lebihnya, kecuali unit pengatur AC yang mirip Bluetooth Speaker JBL yang pake bluetooth. Bukan, bukan nggak spesial, tapi karena bentuknya mengotak yang cenderung klasik, kabin ini nggak bikin cepat bosan. Long lasting dan fun. Mungkin karena warnanya kabin nya nggak Cuma hitam, tapi ditambah warna putih, dan juga warna yang menyesuaikan warna mobil. Kesannya untuk anak muda banget. Soal kenyamanan Jok, gimana? hmm... biasa aja lah ya.




Untuk kursi cukup nyaman, standar. Semi-bucket yang artinya bisa menahan supir joget kalau jalanan kayak suasana pantura. Untung kursi belakang, selamat aja lah ya, lumayan tegak. Kalau untuk jarak antar kota masih aman. Capek kalau diajak mudik ke Jawa (lah seua mobil juga begitu).Oh ya, banyak yang bilang suspensinya keras, tapi kalo dirasa-rasa normal aja. ngelewatin polisi tidur masih bisa dibilang empuk. Tapi nih ya, kalau dibawa ke jalan raya kabin nggak terlalu senyap. Mirip-mirip mobil LCGC.



Mesin
Dari berbagai macam review yang ada di Indonesia, banyak yang meragukan kemampuan Suzuki Ignis ini, Karena transmisinya yang AMT atau AGS. Transmisi manual yang dibuat menjadi automatic. untuk kepraktisan sih boleh lah ya, gausah sering-sering ganti perseneling. Tapi, Pertama ngerasain sih sempat kaget juga. Lah begini. Mau ganti gigi secara otomatis kayak ragu, tenaga belum gede, udah ganti ke gear selanjutnya. Banyak delay. Suka ngelamun, responnya kurang cepat.
Tips nya:
Menggunakan transmisi manual, atau di setiap pergantian gigi, lepaskan gas sejenak seperti menggunakan transmisi manual, mesin butuh jeda untuk pergantian gear. Pas gue akalin begini, rasanya Suzuki Ignis ini jadi lebih powerfull. Dijalanan kota bisa lincah, di jalan bebas hambatan, di atas 100 KM/jam masih sanggup tanpa repot, kok.
Respon yang kurang juga berasa banget ketika belok. Power Steering kayak cuma penghias. Bayangin, kalau di wilayah kecepatan tinggi kamu masih bisa merasakan setir yang balik lagi ke tengah setelah belokan walaupun cuma setengahnya. Sebagian lagi harus pake otot. Lebih parah lagi, kalau belok dengan kecepatan rendah, kamu harus menggunakan ototmu seluruhnya untuk membelokkan mobil karena mobilnya nggak berasa punya fitur power steering.
Kesimpulannya gimana? puas pake mobil ini?
Untuk tampilan sama fitur sih boleh lah ya lengkap. Tampang keren, entertainment lumayan lengkap. Namun dari segi kenyamanan berkendara kurang. Rasanya, mobil ini cocoknya dipake untuk gaya. Untuk anak-anak kekinian yang masih mau berusaha untuk menyetir dengan siaga. You know what i mean. Kalau mau defensif, mobil ini untuk anak muda yang lebih memilih gaya. Apa mobil ini layak untuk dibeli? Layak. Kalau jiwa kamu muda. Butuh mobil yang nggak malu-maluin. Dibawa nyetir masih bisa diakalin. Lagian, bawa mobil juga nggak mungkin butuh yang selalu harus ngebut. Mau kemana juga? mau dikejar dinosaurus? nggak lah. Jurrasic park nggak ada di kota, kok.

You Might Also Like

0 komentar

Berikan komentarmu dan kita bisa berdiskusi di sini!